6 Kesalahan Desainer Pemula yang Umum

Jadi desainer itu kelihatan keren, apalagi kalau udah bisa bikin poster estetik, feed Instagram rapi, atau logo yang tampil profesional. Tapi di balik itu semua, proses belajarnya nggak selalu mulus. Banyak desainer pemula yang semangat banget di awal, tapi tanpa sadar ngulangin kesalahan yang bikin hasil desainnya kurang maksimal.
Nggak perlu malu kalau kamu masih sering salah, karena itu bagian dari proses belajar. Yang penting, kamu mau ngoreksi dan nggak terus-menerus ngulangin kesalahan yang sama. Nah, biar kamu bisa berkembang lebih cepat, yuk kenali 6 kesalahan desainer pemula yang paling sering kejadian.
1. Terlalu Banyak Gunain Font
Ini salah satu kesalahan klasik. Banyak pemula yang ngerasa harus bikin desainnya “unik” dengan pakai berbagai macam font dalam satu layout. Hasilnya? Bukan kelihatan kreatif, malah bikin sakit mata.
Font bukan dekorasi, tapi alat komunikasi. Kalau kamu pakai 4 sampai 5 jenis font sekaligus, audiens bakal bingung mana yang harus dibaca duluan. Solusinya, cukup pakai maksimal 2 jenis font dalam satu desain: satu buat judul (heading), satu lagi buat isi (body text).
Kamu bisa mainin ukuran, ketebalan, atau spasi kalau mau bikin variasi, tapi tetap dalam satu keluarga font biar konsisten. Desain yang rapi dan mudah dibaca itu jauh lebih dihargai daripada desain yang kelihatan ‘ramai’ tapi bikin bingung.
2. Nggak Punya Tujuan Jelas dalam Desain
Sering banget desainer pemula mulai desain cuma karena “mau bikin yang keren”, tapi nggak tahu tujuan dari desain itu sendiri. Padahal, setiap desain harus punya pesan utama yang mau disampaikan. Kalau tujuannya nggak jelas, desainmu bisa jadi cuma sekumpulan elemen visual tanpa arah.
Sebelum buka Canva, Photoshop, atau Figma, tanya dulu ke diri sendiri:
-
Siapa yang bakal lihat desain ini?
-
Apa yang mau saya sampaikan?
-
Aksi apa yang saya harapkan dari orang yang lihat desain ini?
Dengan tahu tujuan, kamu bisa bikin keputusan desain yang lebih tepat, entah itu dari segi warna, komposisi, sampai jenis gambar yang kamu pilih.
3. Terlalu Mengandalkan Efek dan Filter
Banyak pemula ngerasa desainnya belum “jadi” kalau belum pakai drop shadow, glow, bevel, atau filter warna yang heboh. Padahal, desain yang bagus itu nggak selalu butuh efek visual yang berlebihan. Malah kadang makin polos makin elegan.
Efek itu boleh aja dipakai, tapi harus ada alasannya. Jangan semua elemen dikasih bayangan, semua teks dikasih outline, atau background dikasih blur cuma biar kelihatan beda. Justru kesan profesional muncul saat kamu bisa bikin desain yang bersih tapi tetap kuat pesannya.
Coba lihat desain-desain brand besar. Kebanyakan justru simple dan minim efek. Fokus mereka adalah ke pesan, bukan ke efek visual yang bikin mata lelah.
4. Nggak Ngerti Dasar Komposisi dan Spasi
Kesalahan yang satu ini sering bikin desain kelihatan “nggak enak dilihat” walau isinya udah oke. Komposisi adalah tentang gimana kamu menata elemen-elemen dalam desain supaya rapi dan seimbang. Spasi (white space) itu kayak napas dalam desain—kalau terlalu sempit, bikin sesak, kalau terlalu longgar, jadi hampa.
Desainer pemula kadang naruh teks terlalu mepet ke pinggir, gambar ditumpuk sembarangan, dan nggak kasih ruang buat desain ‘bernafas’. Padahal, sedikit jarak antar elemen bisa bikin desainmu kelihatan jauh lebih profesional.
Coba biasain pakai grid atau guideline di software desainmu. Latih mata kamu buat ngerasa kalau elemen udah sejajar atau belum. Komposisi yang bagus bisa bikin desainmu terlihat rapi meskipun kontennya simpel banget.
5. Asal Pilih Warna Tanpa Pertimbangan
Warna itu punya peran besar dalam desain. Dia bisa ngatur mood, arahkan perhatian, bahkan menentukan apakah desainmu kelihatan premium atau murahan. Sayangnya, desainer pemula sering banget asal pilih warna, atau malah pake warna yang terlalu mencolok dan nggak harmonis.
Solusinya? Pelajari dasar teori warna. Mulai dari warna komplementer, analog, sampai pemakaian kontras. Gunakan tools seperti Coolors atau Adobe Color buat cari palet warna yang udah harmonis.
Pakai maksimal 2-3 warna utama, dan jangan lupa pastikan warna teks punya cukup kontras biar bisa dibaca dengan nyaman. Hindari kombinasi merah terang dengan biru neon, atau kuning di atas putih. Kamu bukan bikin desain untuk lampu disko.
6. Nggak Terbiasa Minta Feedback
Desainer pemula sering banget gengsi atau takut dapet kritik. Mereka simpan desainnya sendiri, nggak minta pendapat siapa pun, terus kecewa kalau ternyata hasilnya nggak sesuai harapan. Padahal, feedback itu salah satu cara tercepat buat berkembang.
Jangan tunggu sempurna baru dikasih lihat. Justru tunjukkan saat masih proses, biar kamu bisa dapet insight dari sudut pandang lain. Kamu bisa tanya ke temen, posting di forum desain, atau ikutan komunitas online buat diskusi.
Makin sering kamu dapet masukan, makin tajam insting desainmu. Dan makin kamu terbiasa dengan kritik, makin pede kamu buat ngasih hasil terbaik.
Penutup: Nggak Apa-Apa Salah, Asal Mau Belajar
Semua desainer hebat juga pernah ngelakuin kesalahan kayak yang ada di atas. Bedanya, mereka nggak berhenti belajar dan mau dikritik. Jadi kalau sekarang kamu masih suka salah font, salah warna, atau layout berantakan, itu wajar banget. Tapi jangan stuck di sana.
Ulangi desainmu, bandingin sama desain profesional, dan terus belajar dari kesalahan yang kamu temuin. Lama-lama, kamu bakal punya gaya sendiri, tahu mana yang enak dilihat, dan paham gimana bikin desain yang nggak cuma keren, tapi juga ngena ke audiens.
Ingat, jadi desainer itu proses. Nikmati setiap tahapnya, dan pastiin kamu nggak terus-terusan ngulangin kesalahan yang sama.
