5 Tips Digital Marketing yang Dilarang
Di era serba digital ini, semua orang berlomba-lomba promosiin produk lewat internet. Mulai dari jualan baju, skincare, sampai jasa desain, semua bisa dipasarkan lewat digital marketing. Tapi yang nggak banyak orang tahu, ternyata ada beberapa tips dan trik marketing yang dulu dianggap “jitu”, sekarang justru dilarang keras dipakai.
Kenapa? Karena cara-cara itu dianggap manipulatif, nyebarin hoaks, atau bahkan ngerugiin konsumen. Kalau kamu masih pakai strategi jadul yang kayak gini, bukan cuma bisa ditinggal pelanggan, tapi juga bisa kena tegur platform atau bahkan masuk daftar hitam Google dan Meta.
Nah, supaya kamu nggak salah langkah, yuk kenali 5 tips digital marketing yang sekarang justru dilarang. Siapa tahu kamu pernah pakai salah satunya tanpa sadar.
1. Clickbait Berlebihan di Judul dan Gambar

Contoh klasik:
“Kamu Nggak Akan Percaya Produk Ini Bisa Turunkan Berat Badan 10 Kg Dalam 3 Hari!”
“Cuma Modal 5 Ribu, Bisa Dapat 5 Juta!”
Clickbait emang bisa bikin orang penasaran dan ngeklik konten kamu. Tapi sekarang, Facebook, Instagram, TikTok, bahkan Google sudah melarang iklan atau konten yang terlalu bombastis dan nggak masuk akal.
Algoritma udah makin pintar. Judul yang terlalu lebay akan langsung dibatasi jangkauannya, bahkan bisa dihapus. Apalagi kalau isinya ternyata beda jauh dari judul — itu udah termasuk penyesatan informasi.
Kalau kamu masih pakai clickbait yang parah, siap-siap akunmu kena peringatan, atau engagement-mu jeblok.
2. Menggunakan Testimoni Palsu

Banyak banget iklan atau landing page yang tampilannya keren tapi isinya hoaks. Biasanya pakai nama orang yang nggak ada:
“Saya ibu rumah tangga, penghasilan sekarang 50 juta dari rumah!”
“Dulu saya cuma tukang cuci piring, sekarang bisa beli mobil.”
Masalahnya, foto dan nama sering kali palsu. Bahkan ada yang ambil gambar dari Google atau pakai AI buat bikin wajah baru. Ini termasuk penipuan publik.
Meta (Facebook dan Instagram) sudah melarang keras penggunaan testimoni fiktif dalam promosi. Kalau sampai ketahuan, bukan cuma iklannya yang ditolak, tapi akun kamu bisa masuk blacklist.
Lebih baik pakai testimoni asli dari pelanggan nyata, meskipun sederhana. Kepercayaan lebih penting daripada sensasi.
3. Menjual Produk dengan Klaim Kesehatan Tanpa Bukti

Ini sering terjadi di dunia digital marketing:
-
Produk herbal diklaim bisa sembuhin diabetes
-
Minuman detox disebut bisa menghilangkan kolesterol dalam 1 hari
-
Skincare disebut bikin putih permanen dalam seminggu
Kalau kamu promosiin produk kesehatan, kosmetik, atau makanan dengan klaim medis atau ilmiah tanpa dasar, kamu bisa kena sanksi. Di Indonesia, BPOM dan Kominfo bekerja sama dengan platform digital untuk menghapus semua konten yang menyesatkan.
Di luar negeri, Google Ads dan Meta juga melarang iklan dengan janji medis yang nggak terbukti. Jadi, hati-hati saat menulis copywriting produkmu. Jangan ngarang manfaat yang nggak bisa dibuktikan secara ilmiah.
4. Menggunakan Scarcity atau Deadline Palsu
Pernah lihat tulisan kayak gini?
“Hanya Tersisa 2 Stok Lagi!”
“Diskon Hanya Sampai Hari Ini Jam 23.59!”
Padahal… besok stoknya tetap ada, dan diskon masih jalan terus. Ini disebut sebagai false scarcity — menciptakan rasa takut kehabisan barang secara palsu.
Teknik ini dulunya ampuh banget, tapi sekarang udah dilarang di beberapa platform e-commerce. Shopee, Tokopedia, bahkan TikTok Shop mulai menindak seller yang sengaja nipu stok demi meningkatkan penjualan.
Kalau kamu pakai teknik ini di website sendiri dan ketahuan pelanggan, siap-siap reputasimu hancur. Lebih baik jujur aja soal stok dan durasi promo. Pembeli yang loyal datang karena percaya, bukan karena panik.
5. Spamming Lewat Komentar dan DM
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi sampai sekarang: nyepam link jualan ke kolom komentar orang lain atau DM massal.
Contohnya:
-
Komentar di video orang lain: “Mau produk kayak gini? Cek akun aku ya!”
-
Kirim pesan ke ratusan orang: “Kak, mau join reseller nggak? Modal kecil untung besar!”
Metode kayak gini bukan cuma mengganggu, tapi juga bisa bikin kamu dilaporkan. Instagram, Facebook, dan TikTok sekarang punya sistem pendeteksi spam otomatis. Sekali ketahuan nyepam link atau promosi, reach akun kamu langsung diturunkan drastis. Bahkan bisa diblokir sementara.
Solusinya? Fokus ke konten organik yang menarik. Bikin audiens datang karena kontenmu berguna, bukan karena kamu nyepam ke mana-mana.
Penutup: Digital Marketing Butuh Etika, Bukan Sekadar Trik
Dulu, mungkin kamu bisa mengandalkan trik-trik “nakal” buat dapat penjualan cepat. Tapi sekarang, zaman udah berubah. Platform makin pintar, pengguna makin kritis, dan regulasi makin ketat.
Digital marketing yang sukses di tahun 2025 adalah yang jujur, kreatif, dan membangun kepercayaan jangka panjang.
Kalau kamu masih pakai cara-cara lama yang melanggar aturan, percayalah — yang rugi bukan cuma bisnis kamu, tapi juga reputasi kamu sendiri.
Lebih baik kamu belajar strategi baru yang etis, humanis, dan tetap fun. Banyak kok cara marketing yang masih bisa menghasilkan tanpa harus menipu.
baca juga : 3 Kesalahan Bikin Reels Nggak Viral

